Reliability Articles

Reliability Centered Spare Part

Sebanyak 50% dari nilai inventori terdiri dari spare part yang digunakan sekitar satu tahun atau kurang. Sementara part dengan nilai 10% hingga 30% dari inventori dapat tetap disimpan di Gudang selama siklus hidup suatu industri. Dari sudut pandang keuangan, part ini mungkin seharusnya tidak dibeli. Di sisi lain, jika part tersebut tidak tersedia saat dibutuhkan, suatu bisnis bisa mendapatkan konsekuensi downtime yang berat. Proses RCS, yang akan diturunkan langsung dari Reliability Centered Maintenance, menunjukkan kriteria spesifik pada seluruh inventori, yang berupa part consumable maupun slow-moving. Penghematan signifikan dapat diperoleh dengan mengaplikasikan metode tersebut pada part yang mahal, slow-moving, dan kritikal.

Figure 1. Diagram Alir Program Reliability Improvement

Terdapat tiga jenis strategi manajemen inventori, yaitu:

  • Just in Case

Just in Case merupakan strategi inventori berdasarkan kondisi peralatan saat run-to-failure (keamanan, asuransi, darurat). Material yang tersedia di gudang digunakan saat peralatan mengalami kegagalan. Setelah digunakan, material dipersiapkan lagi di gudang. Stok ditunjukkan seperti pada gambar di bawah ini:

  • Just in Time

Just in Time merupakan strategi inventori berdasarkan waktu outage-nya. Item tidak tersedia di gudang dan hanya akan diisi jika stok habis dan outage. Stok ditunjukkan seperti pada gambar di bawah ini:

  • Routine

Strategi Inventori Routine berarti material selalu tersedia di gudang. Terdapat tingkatan minimum dan maksimum stok. Jika jumlah stok material mencapai Re-Order Point, maka material akan disediakan kembali di gudang.

Proses peninjauan material pada Reliability Centered Spare Part diikuti dengan Analisis ABC. Analisis ABC adalah metode pengelompokan inventori yang membagi item ke dalam tiga kategori, yaitu (A, B, C).

  1. Criticality adalah pengaruh pada unit, jika tidak ada, maka unit akan mengalami tripping, derating, atau tidak berpengaruh.
  2. Availability adalah Lead Time yang dibutuhkan material untuk sampai ke gudang. Lead Time terdiri dari Lead Time Internal (PR – PO/contract) dan Lead Time Eksternal (PR – masuk gudang).
  3. Usage Value merupakan tingkatan penggunaan material saat waktu tertentu, dihitung dari harga dan kuantitas produk.

 

Terdapat beberapa kebijakan dalam Analisis ABC, diantaranya adalah:

  1. Service level adalah bagian paling penting dalam kebijakan ini karena dapat mengindentifikasi secara jelas part apa di inventori yang penting dan part apa yang tidak penting.
  2. Average demand adalah nilai rata-rata dari total penggunaan material selama minimal tiga tahun dan maksimal lima tahun.
  3. Safety Stock dapat didefinisikan sebagai inventori tambahan yang disimpan untuk melindungi atau menjaga saat kemunginan terjadinya kekurangan pada inventori (stock out).
  4. Economic Order Quantity (EOQ) menentukan jumlah pesanan.
  5. Peak Inventory dapat didefinisikan sebagai harga maksimum barang atau material dari inventori di gudang.
  6. Average Inventory dapat didefinisikan sebagai nilai rata-rata barang atau material dari inventori di gudang.